You are here:

Search

Customer Suport [24 jam ]

Testimonial

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player

Powered by RS Web Solutions

Banner

Visitor Maps

Site Statistic

Content View Hits : 3864800

Who,s Online

We have 198 guests online
Ternyata Ada Desa Nudis Tua Di London
Wednesday, 03 December 2014 11:09

Spielplatz nudist village

Jika menurut Anda mengunjungi pantai nudis itu sudah biasa, coba mampir ke Spielplatz, Bricket Wood, Hertfordshire, Inggris. Desa yang sudah berdiri sejak 1929 tersebut dikenal sebagai desa nudis. Dengan kata lain, seluruh penduduk di desa tersebut memilih tampilan polos, tanpa sehelai benang pun, dalam keseharian mereka.

Bukan hanya itu saja yang unik. Spielplatz, terletak tepat di tengah-tengah kota London yang sibuk. Hanya berjarak ratusan meter dari jalan raya M25.

Dilansir Daily Mail, penduduk Spielplatz telah menjalani gaya hidup kembali ke alam tersebut sejak 85 tahun lalu.

Kehidupan mereka selama ini belum pernah diekspose media, hingga sebuah film dokumenter mengangkat kisah mereka. Berjudul The Nudists Next Door, film tersebut menceritakan tentang kehidupan mereka sehari-hari dan alasan para penduduknya memilih gaya hidup nudis.

Dua orang penduduk awal di Spielplatz adalah pasangan Tina dan Mark Yates. Mereka hijrah ke Spielplatz karena Tina ingin lebih mengenal dan mengeksplorasi diri dalam lingkungan yang lebih alami.  

Tina mengatakan, nama Spielplatz diambil dari bahasa Jerman yang berarti taman bermain.

“Desa ini dirikan oleh Iseult Richardson pada 1929,” kata Tina, yang mengatakan sangat bersyukur bisa tinggal di desa yang menerima para penduduknya apa adanya.

“Kami beruntung tinggal di tempat yang luar biasa ini. Kami tidak perlu malu atau rikuh dengan orang lain atas pilihan gaya hidup kami,” ujar Tina.

Sekarang ini, terdapat 34 rumah di Spielplatz, kebanyakan berbentuk bungalo dengan dua kamar. Tidak hanya di dalam rumah, para penduduknya pun bebas berkeliaran tanpa pakaian saat hendak mengunjungi bar lokal.

Namun, Tina mengatakan tidak ada paksaan untuk tampil polos. “Jika ada yang ingin menggunakan busana, kami persilakan. Ini hanya pilihan,” tambahnya.

Sementara, jika ingin keluar desa, para penduduk pun biasanya mengenakan pakaian guna menghargai orang lain yang mungkin merasa tersinggung atau malu dengan ketelanjangan mereka.

sumber : vivanews

Share