You are here:

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player

Powered by RS Web Solutions

Search

Customer Suport [24 jam ]

Login / Register



Testimonial

In order to view this object you need Flash Player 9+ support!

Get Adobe Flash player

Powered by RS Web Solutions

Banner
Banner

Visitor Maps

Site Statistic

Content View Hits : 2633922

Who,s Online

We have 115 guests and 2 members online
Yang Mengatakan Allepo Adalah Konflik Sunni-Syiah Harus Baca Ini
Friday, 23 December 2016 10:39

 benarkah-perang-di-aleppo-cuma-konflik-syiah-sunni

Kerusuhan di sruiah tumbuh sejak protes kebangkitan dunia Arab tahun 2011, dan meningkat ke konflik bersenjata dengan protes pengunduran diri Pemerintaanh Presiden Bashar al-Assad.

Sorotan dunia internasional kini tengah mengarah ke Kota Aleppo, Suriah. Pekan lalu media-media internasional memberitakan kegembiraan warga sipil di Aleppo setelah kota tempat mereka tinggal dibebaskan dari kepungan para pemberontak.

Militer Suriah dibantu Rusia membombardir kawasan Aleppo timur yang selama ini menjadi daerah kekuasaan pemberontak. Hasilnya, wilayah itu kini berhasil dikuasai tentara dan para pemberontak menyerah.

Bersamaan dengan itu media-media arus utama Barat memberitakan kekejaman tentara Suriah terhadap warga sipil di Aleppo.

Seperti diungkap dari situs Global Research, akhir tahun lalu, Amerika Serikat menginginkan pergantian rezim di Suriah sebagai agenda besar mereka di Timur Tengah. Sejak 2014 AS menyatakan terlibat dalam perang melawan teroris di Irak dan Suriah. Beberapa tahun sebelumnya AS sudah mendukung kelompok oposisi bersenjata yang ingin menggulingkan rezim Basyar al-Assad. Negara Adikuasa itu beralasan mereka ingin melindungi rakyat sipil dari kekejaman rezim pemerintah Suriah. padahal AS berencana membangun apa yg mereka namakan "timur tengah baru" Agenda yang memasukkan adu domba sektarian Syiah-Sunni sebagai bagian dari proses menuju pembentukan Timur Tengah Baru.

AS merangkul Arab Saudi sebagai sekutu untuk menggunakan isu sektarian dengan maksud membuat adu domba antara kelompok muslim Sunni dan Syiah guna mencapai tujuan di Timur Tengah, termasuk di Aleppo, Suriah.

Sesungguhnya Syiah-Sunni itu sesama saudara muslim. Masalahnya bukanlah soal perbedaan Sunni-Syiah tapi ada pihak yang membuat Sunni-Syiah itu bermusuhan karena perbedaan.

Secara garis besar, warga Suriah juga terdiri dari beragam etnis dan penganut agama. Dikutip dari laman Truthdig.com, sebanyak 14 persen adalah penganut Syiah Alawit, 7 persen Kristen, 3 persen Druze, 1 persen Ismaili, 10 persen Kurdi, 30 persen Sunni Arab Sekuler dan 34, 5 persen Sunni Arab taat.

Amerika mendanai dan mempersenjatai apa yang mereka sebut teroris moderat alias Tentara Pembebasan Suriah (FSA) sebagai upaya perlawanan terhadap rezim yang berdaulat. AS mengajak Saudi, Qatar, Israel, Turki untuk mendanai dan memasok senjata kepada kelompok pemberontak buat menggulingkan Assad yang menganut paham Syiah Alawit.

Mulai saat itu suriah terpecah2 oleh pemberontak2 besar dan kecil. Per Februari 2016 pemerintah menguasai 40% Suriah, ISIL menguasai sekitar 20-40%, kelompok pemberontak Arab (termasuk Front al-Nusra) 20%, dan 15-20% dikuasai Pasukan Demokratik Suriah.

Pada 2013 AS secara terbuka mengakui melatih dan mempersenjatai para pemberontak yang kemudian juga termasuk Jabhat Nusra dan ISIS.

Pemberontak FSA yang didukung AS misalnya, berperang bersama ISIS melawan pasukan Suriah selama beberapa bulan pada 2013 untuk merebut pangkalan udara Menagh dekat Aleppo. Salah satu komandan ISIS dalam operasi itu adalah warga Chechnya Abu Umar al Shisani, sosok yang pernah menerima pelatihan militer dari AS sebagai bagian dari pasukan elit Georgia pada 2006. Dia terus mendapat dukungan dari AS pada 2013 lewat FSA.

 

Bukti dukungan AS terhadap ISIS juga yang membuat Wamenlu Suriah Faisal Mikdad mengatakan perang AS melawan ISIS hanyalah kosmetik belaka. Teorinya AS menyerang ISIS tapi di lapangan justru membantu dan melindungi. Tujuan sebenarnya Negeri Paman Sam dan sekutunya adalah menjatuhkan rezim Assad lewat tangan kelompok pemberontak dan ekstremis macam ISIS dan Jabhat Nusra. Strategi itu dilakukan dengan menyebar isu konflik sektarian Sunni-Syiah.

Ketika Rusia memutuskan terlibat dalam konflik Suriah pada September tahun lalu mereka menyokong militer Suriah dengan bantuan serangan udara. Sasaran Rusia adalah kelompok oposisi dan pemberontak, termasuk ISIS. Hal itu menjelaskan mengapa AS terbukti menolak kerja sama dengan Rusia membantu militer Suriah memerangi kelompok militan ISIS. Kalau memang mereka ingin menumpas ISIS, mengapa tidak bekerja sama dengan Rusia dan militer Suriah menghabisi kelompok militan itu?

Mereka yang menganggap perang di Suriah adalah konflik Syiah-Sunni sebaiknya berpikir lagi. AS sudah sejak lama merencanakan pergantian rezim di Timur Tengah, bekerja sama dengan Saudi menggunakan isu sektarian.

Share